Kisi-Kisi Bahasa Indonesia Kelas 9

Labels: kisi-kisi 9
Disini tempat untuk kita peduli pada keluarga,kerabat,sahabat,pacar,bangsa,alam dan semua yang terangkum dalam hidup dan mati

Labels: kisi-kisi 9
Soal terdiri dari 45 soalLabels: Kisi-Kisi
TEBIT PADA TABLOID PDO lintas batas budaya
oleh : M. Faris Habib
Elia Kadam, Boneka Cantik dari India
“Hidup kok repot-repot siy, aku gak mau nyusahin orang!”
(Depok, 2 April 2008) Ketika langit cerah pada sore hari, di Kota Depok. Pedeo mengunjungi penyanyi dangdut ternama Elia Kadam di kawasan Kelapa Dua. Pedeo disambut dengan ramah dikediaman ‘umi El’ (panggilan akrabnya) yang artinya ibu El, kata ‘umi’ sebutan ibu dalam bahasa Arab.
Penyanyi dan bintang Film yang bernama asli Siti Alia Husna, kini sudah berumur 78 tahun. Umi El dilahirkan di Jakarta, beliau sendiri lupa tanggal kelahirannya namun beliau masih ingat zodiaknya yakni Libra yang berlambang timbangan. Beliau lahir dikampung Padurenan, wilayah Kuningan (dekat kawasan elit menteng). Tentu, pada masa itu belum menjadi kawasan elit masih kampung-kampung. Menurut pengakuan Umi El, bahwa tempat kuburan keluarga beliau telah menjadi kolam renang. Tepat di samping kolam renang adalah rumah aslinya atau tempat pertama kali beliau tinggal dengan keluarganya. Oleh sebab itu, Elia Kadam menyingkir ke pinggiran kota Jakarta tepatnya di Depok; karena faktor penggusuran yang dilakukan pada masa orde baru.
“Kampungku udah diobrak-abrik.” Ucapnya kepada pedeo.
Nama belakang dari Elia Kadam sendiri, berasal dari nama mantan suami yang kurang lebih sudah 30 tahun telah berpisah. Elia Kadam memiliki 2 orang anak laki-laki yang bernama Muhamad Dahlan dan Muhamad Yusuf. Serta, memiliki 14 orang cucu. Dan tinggal 4 orang cucu lagi yang belum menikah.
Kiprah menyanyi Elia kadam dimulai dari panggung ke panggung dengan menyanyikan lagu-lagu Melayu-Deli, bukan lagu-lagu dangdut. Pada waktu film India mulai memasuki Indonesia dengan corak hitam-putih. Umi El, mulai menyanyikan lagu-lagu India yang beliau sendiri tidak mengerti arti dari syair yang berbahasa India itu.
“ngepaslah istilahnya.” Ucapnya.
Berdasarkan banyaknya permintaan penonton akan lagu-lagu India yang beredar lewat film, beliau terus menyanyikan lagu-lagu India. Sampai dari segi kebahasaaanya, beliau banyak dibantu oleh para keturunan India yang ada di Indonesia pada waktu itu. Karena ketidakmengertian tersebut, akhirnya beliau merelakan diri untuk mengikuti les bahasa India selama dua tahun. Selain menggemari bahasa India beliau juga menyukai berbagai macam bahasa daerah terutama bahasa Sunda. Sesuai pendengaran telinga pedeo, beliau cukup fasih saat bertutur bahasa Sunda.
“Saya belajar supaya mengerti.” Ujarnya disela-sela perbincangan.
Perempuan keturunan Pakistan-Tegal ini, pertama kali membuat album lagu pada tahun 1957. Beliau mendapat tawaran dari Munif Bahaswan dkk. (seangkatan dengan Mashabi yang menyanyikan lagu “anak tiri”). Dibawah label Kelana Ria pimpinan Adi Karso (paman dari Rahmat Kartolo), terciptalah album pertamanya ‘Boneka India’ yang telah melegenda di telinga kita. Pada album ini, tercipta beberapa hits diantaranya: “Boneka India”, “Termenung”, “Beban Kasih Asmara”, “Mengharap”, dan sebagainya.
Lagu “Boneka India” yang tidak asing lagi dalam dunia dangdut, diciptakan sendiri oleh Elia Kadam dan ini merupakan lagu pertama yang diciptakannya. Sejarah penciptaannya pun cukup unik. Berawal dari perasaan kasmaran terhadap kekasihnya yang keturunan Arab. Karena malu jika harus mengucapkan boneka Arab maka beliau ganti kata Arab dengan India. “nyerempet-nyerempet dikit deh.” Ucap Elia Kadam. Jadilah lagu “Boneka India”.
Setelah tenar bernyanyi dangdut ala India, umi El mendapatkan tawaran main film sebagai figuran terlebih dahulu. Film pertamanya adalah “Bapak Bersalah”. Dilanjuti dengan film-film yang berpasangan dengan Alm. Benyamin S. yaitu: “Biang Kerok”, “Biang Kerok Beruntung”, “Jagoan Tengik”, dan sebagainya. Saat berpasangan dengan Alm. Benyamin S. inilah beliau mulai mendapatkan dialog yang cukup banyak (istilahnya peran utama) terutama dalam film “Biang Kerok” dan “Biang Kerok Beruntung”.
Di tengah ketenarannya dalam dunia hiburan beliau merupakan sosok yang tidak pernah melupakan agamanya. Karena hampir setiap harinya dalam satu minggu beliau manggung atau ada kegiatan hiburan. Terkecuali pada hari Kamis malam Jum’at beliau mengkhususkan diri tidak menerima tawaran nyanyi atau yang lainnya. Kebiasaan ini memang tertanam sejak beliau mengenyam pendidikan di Madrasah.
Sejak tahun 1957, beliau mulai berkeliling Indonesia untuk bernyanyi. “walau pada masa itu penyanyi belum menghasilkan uang yang begitu banyak, tetapi nilai seninya masih asli”. Tegas Elia Kadam.
Baru pada tahun 1962 ke depan penyanyi dangdut mulai mengenal penghargaan dalam bentuk uang. Elia Kadam sendiri, mengaku dalam setahun bisa tiga kali rekaman setiap rekaman bisa mencapai 10 lagu dalam angka minimal, omset yang didapat pun lumayan untuk kehidupan pada masa itu.
Nenek 14 cucu ini, banyak menerima segala bentuk penghargaan sehingga terlalu sulit bagi beliau jika harus mengingatnya satu per satu. Beliau berhenti total dari dapur rekaman kira-kira 10 tahun yang lalu. Dan beliau juga sempat memimpin orkes dangdut ala India selama 15 tahun. Orkes tersebut dinamainya “El Sitara”, kata ‘El’ berasal dari nama beliau sendiri yaitu Elia sedangkan kata ‘Sitara’ berasal dari bahasa India yang artinya bintang. Jadi El Sitara bisa dibilang elia sang bintang. Kini personil orkes El Sitara yang masih hidup hanya tinggal seorang.
Kefakuman Elia Kadam dari dapur rekaman tidak menutup kemungkinan beliau turun ke dunia sinetron. Seperti setahun yang lalu beliau sempat menerima beberapa judul sinetron. Cuma beliau merasa enggan bermain sinetron lagi karena waktunya terlalu padat sehingga kurang waktu untuk ibadah.
“bukannya sok alim, emang kita orang Islam mau selamanya hidup di dunia.” Ujar umi El sambil mengingatkan.
Sehingga, apabila ada tawaran main sinetron beliau hampir selalu menolaknya dengan alasan sudah tua.
Masih menurut beliau, “buat aku menyanyi ok gak nyanyi juga gak apa-apa!” ucapan yang cukup nrimo bagi seorang bintang sekelas Elia Kadam. Karena kefakuman beliau selama ini juga didorong oleh rasa kerendahan hati beliau sendiri. Beliau menyadari bahwa walau kebanyakan orang bilang suara Elia Kadam ‘khas’ lama kelamaan orang pun akan bosen. “Presiden aja ganti.” Penegasan beliau kepada pedeo melanjuti komentar kefakumannya.
Diatas baying-bayang nama yang melegendaris, seorang Elia Kadam ternyata tidak merasa bangga, karena beliau menegaskan kembali bahwa suara beliau sebagai penyanyi saja terkadang ada yang suka dan ada pula yang tidak suka. Jadi jangan sombong.
Mengkomentari dunia dangdut sekarang umi El enggan berkomentar banyak sebab beliau merupakan tipikal orang yang menghargai orang lain. Tapi beliau sesekali mengingatkan bahwa pada jamannya saat menyanyi kelihatan betis kaki saja sudah malu, memang berbeda dengan sekarang. Semua itu sudah jamannya berbeda, pemikiran orang pun berbeda.
“jadi kalau ada penyanyi dangdut yang macam-macam, emak bapaknya aja gak kenapa-kenapa, jadi ngapain kita ngurusin orang lain, toh kuburan kita pun nanti masing-masing (nafsi-nafsi lah), dia kan dah pada pinter, bisa jaga diri sendiri.” Ucapnya dengan nada penuh kebijakan.
Untuk rencana kedepan umi El tidak ingin rekaman, jika harus mengeluarkan dana sendiri. Kecuali, jika ada yang ingin mendanai. Jika umi El terlihat manggung pada masa-masa sekarang ini, itu semua didasari atas rasa kerinduan akan dangdut. Umi El juga menyadari kalau usia beliau juga sudah lanjut hampir mencapai kepala delapan.
Berbicara masalah nada dasar dangdut seorang Elia Kadam lebih sering bermain di nada dasar “D”, tapi itu juga tergantung dari karakter lagunya. Menurut beliau masalah nada dalam bernyanyi bisa diaturlah. Dengan kepiawaiannya bernyanyi, bakat ini pun menurun terhadap anak-cucunya. Hampir semua anak-cucunya bisa menyanyi. Hanya perlu digaris bawahi, umi El lebih suka anak-cucunya tidak menjadi penyanyi.
Rahasia kemerduan suara Elia Kadam, simple-simpel aja (seperti hidupnya juga yang cukup simple tidak usah di bikin repot). Beliau tidak rakus dengan makanan, tidak memakan yang pedas-pedas dan berminyak. Dan sejak kecil beliau sudah menyukai sayur-sayuran serta buah-buahan.
Beliau pun berkata seperti ini, “dalam makan jangan pake ter…(terlalu banyak[nanti gemuk], terlalu sedikit [nanti kurus]) yang sedang-sedang saja!”
Saat berbicara filosofi hidup beliau juga masih berbicara dengan istilah yang sama yaitu: “hidup pun gak pake ter…(terlalu mikir[nanti pusing], terlalu santai[nanti terbuai]) pake rasa syukur aja, hidup simpel aja kan?”
Dari kediaman Elia Kadam pun terlihat banyak kucing-kucing yang sengaja dipelihara beliau. Apabila dihitung jumlahnya mencapai kurang lebih 20-an ekor. Dan kucing-kucing yang dipelihara itu adalah kucing-kucing liar; yang orang lain tidak ingin memeliharanya. Bagaiamana ingin memeliharanya, terkadang kucing tersebut nampak kumuh dan cacat. Suatu sifat kecintaan yang dianugerahkan Tuhan kepada Elia Kadam terhadap makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Memang umi El ini, mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi. Terlihat dari prinsip beliau yang tidak mau menyusahkan orang lain.
Omong-omong, penyanyi dangdut ala India ini. Ternyata belum pernah ke negeri India loh! Tapi dengan bangga ia menanggapi ironi ini dengan ucapan seperti ini, “aku tidak menyesal jika tidak sempat ke India, wong negeriku saja gak abis kecantikannya dari Sabang sampai Merauke.”
Nenek yang satu ini selain hobi membaca kisah 25 Nabi dan Rasul. Beliau juga hobi menyetir mobil, terbukti selama 38 tahun ketika beliau masih memiliki fisik yang bagus. Beliau mengusahakan menyetir sendiri tanpa bantuan supir. Beliau pun pernah mengendarai mobilnya sendiri menuju Bali dengan seseorang yang mengerti mesin, agar jika terjadi pecah ban ada yang membantu. Bahkan jika ada panggilan show beliau tidak perlu dijemput karena beliau senang mengendarai mobil sendiri.
Dan dibalik profesionalitas seorang Elia Kadam, beliau tidak pernah menyanyi di kamar mandi. Bagi beliau bernyanyi di kamar mandi itu sarap/gila. Beliau menyanyi hanya pada waktu latihan baik di rumah atau pun di studio. Selain itu, yah dipanggung juga atau di tempat yang memang pantas untuk menyanyi.
Wajar bagi kita, baik yang mencintai musik dangdut ataupun insan penyanyi dangdut generasi baru. Jika harus merendah dan tidak sombong. Karena seora Elia Kadam saja yang pernah besar namanya masih memiliki perasaan cinta dan rendah hati. Mengapa kita tidak?
Hampir magrib menjelang, pedeo pun menyudahi perbincangan dengan umi El atau Elia Kadam sang penyanyi dangdut ala India. Sebelum pedeo pamit, Umi El sambil bercanda dan mengingatkan, “mi jati hum!” artinya “mi saya pulang dulu” seperti itulah keakraban kami dengan Elia Kadam yang khas dengan keindiaannya.(bib)
Superman Terbang Menuju Mesjid
Suara ramai sekali terdengar di telinga ibu. yang sedang sibuk sekali menyiapkan hidangan makan nanti malam. Ternyata suara ramai itu berasal dari ayah dan Abu yang sedang sibuk sekali bermain bola sepak di halaman belakang rumah. Abu menendang bola, sedangkan ayahnya yang bertugas menangkap bola, namun Abu terlihat pintar setiap kali akan menendang bola, Abu mengajak ayah berbicara ketika avahnya lengah, Abu langsung menendang bolanya. Mau tak mau, bola yang abu tendanng masuk ke dalam gawang yang dibuat ayah dari kaleng susu yang ditumpuk-tumpuk.
Begitulah seterusnya cara Abu memasukan bolanya ke dalam gawang, namun ayah tetap tersenyum dengan kelakuan Abu yang cerdik. Ketika mereka asyik bermain. Ibu hadir diantara mereka mengingatkan untuk lekas ke Mesjid yang ada di depan rumah. Akan Tetapi, abu enggan pergi ke Mesjid karena la lebih asyik berniain bola di belakang rumah.
Ayah dan ibu Abu tak kehilangan akal untuk membujuk Abu.
"Ayah sayap superman ayah yang dahulu kemana? itukan masih bisa terbang ya yah." Pancing ibu kepada ayah.
“Ada hu di lemari kamar." sahut ayah.
Ibu pergi mengambil sayap superman ayah.
Abu bertanya kepada ayahnya, “sayap yang dimaksud itu apa?”
"Sayap superman yang bisa terbang pemberian dari kakek dulu kepada ayah, namun terbangnya hanya bisa menuju ke mesjid di depan rumah." Jawab ayah dengan pelan.
Dengan penuh semangat Abu beneriak kepada ibu agar lekas membawa sayap itu. Tak lama menjelang, ibu datang dengan sebuah sarung.
Abu bertanya pada ibu, “mana sayapnya, bu?"
Ibu menunjukan sayapnya.
Abu kembali berkata, "oh tak mungkin yah ini bisa terbang!"
"Ya mungkinlah anakku, rahasianya terletak pada air wudhu! Sahut ayah kepada Abu. "Cepat sana ambil wudhu!" Perintah ibu kepada Abu.
Abu adalah anak yang menurut pada ibu dan ayahnya, ia segera mengambil wudhu. Setelah abu mengambil wudhu.. ayah menghampiri abu dan langsung mengikat sarung di bagian leher abu ibarat sayap pada superman. Tak lama avah mengangkat abu dengan posisi tengkurap di atas tangan ayah. Abu pun terbang dengan suara riuh.
"Ayah aku terbang!" teriak Abu.
Ayah berlari menuju ke mesjid sambil mengangkat Abu. Sementara itu, abu terus berteriak. Sampai di mesjid adzan Magrib pun di kumandangkan. sambil menunggu ayah mengambil wudhu abu berlari-lari di taman mesjid. Tak lama abu berlari-lari, ayah telah selesai rnengambil wudhu, ayah pun menghampiri abu.
"Ayo abu pakai sayapnya untuk solat dan kita terbang menuju surga. Nanti Allah yang akan mengangkat abu bukan ayah lagi.'" kata ayah kepada Abu.
Mereka pun solat dengan serius, ayah Abu selalu berdoa agar anaknya nanti dapat terbang ke surga menghadap Allah. Hingga kini setiap kali ke mesjid. abu terus terbang bersama ayahnya, abu tak enggan lagi untuk solat karena ia superman yang menjaga agamanya dengan solatnya.
SURAT PUTIH DI POHON NANGKA
Kukuruyuk...kukuruyuk...si jago mulai bernyanyi pagi ini, hari selasa 24 febuari 2007 kata emak (panggilan untuk ibu) sebab aku baru bertanya padanya tentang tanggal dan aku lupa bertanya jam berapa. Emak hari ini tidak berjualan kue kering lagi di pasar, sebab kata emak semenjak ada pasar swalayan para pedagang seperti emak apabila berjualan di pasar maka akan di kejar-kejar pak polisi. Lucu sekali mereka, apabila sedang main kejar-kejaran, ada yang berteriak girang, ada yang sampai berkelahi karena gemas, bahkan ada yang menangis.
“Ya, yang menangis itu emak ku!”
Sudah aku ingatkan emakku, agar jangan bermain kejaran-kejaran lagi lebih baik berjualan saja di pasar swalayan. Tapi emak malah tersenyum manis, aku malah diciumnya sambil menangis emak memanggil namaku.
Memang mengherankan teman-teman, setiap kali kita ke pasar pasti ada pak polisi yang berwajah seram duduk di atas mobilnya yang banyak lampunya. Kadang aku berpikir, pak polisi di pasar sedang jualan apa yah!
Bingung sekali, jika harus memikirkan perilaku orang dewasa yang berlaku seperti kita anak-anak, bermain kejar-kejaran macam di pasar tadi. Aku selalu berdoa, agar nanti aku dewasa aku seperti ayahku, pintar, murah senyum, tidak pernah marah, selalu rajin mengajar walaupun hujan.
Namun aku sedih teman, tiba-tiba ayahku pergi ke dalam tanah. Kata emak, ayah ingin bobo didalam tanah sebab nanti malam ayah ingin mengajar di sekolah. Dalam hatiku, mana ada sekolah yang belajar pada malam hari. Padahal, siang tadi ayah masih pergi ke sekolah untuk mengajar. Seperti biasa ayahku naik sepeda, namun setelah menjelang sore ayah ketiduran di kelas kata emak. Ayah langsung di angkut oleh mobil yang ada lampu berwarrna merah diatasnya, mirip mobil pak polisi.
Memang curang ayahku naik mobil itu tidak mengajak aku. Ketika ayah datang aku langsung diajak paman menuju sungai untuk bermain perahu-perahuan. Nah, ketika selesai bermain ayahku mulai tidur nyenyak di dalam tanah. Lalu paman berkata, biarlah ayahmu bobo dulu, lagi pula kalau ayahmu bobo kan kamu bisa bermain dengan puas. Ketika itu paman berkata sambil menangis, paman adalah adik dari ayahku ia sudah bekerja di kota. Setiap pulang ke desa paman selalu belikan ayah buku-buku yang baru.
Akhirnya aku bermain dengan puas, aku berlari-lari ke sana kemari, aku kejar kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga sepatu. Ketika itu emak tidak ada, emak pergi ke kantor pak polisi katanya mau melapor. Ah, kebetulan aku pasti bisa bermain puas sampai sore dan tidak usah mandi atau solat lagi.
Aku bermain tak hentinya ada saja yang kumainkan, dari boneka hingga sepeda ayah yang aku injak-injak. Namun, tidak lama aku menginjak-injak sepeda ayah. Adzan magrib dikumandangkan oleh pamanku, aku jadi ingat ayah kalau saja ia tidak bobo ayah pasti menyuruh aku ke langgar (Mushola). Tiba-tiba aku ingin ke langgar padahal tadi siang aku sudah rencanakan aku tidak akan solat hari ini mumpung ayah masih tertidur.
Selesai mandi aku langsung mengambil gamis (baju kurung muslim untuk laki-laki). Gamis ini pemberian paman ketika mendapatkan gaji pertamanya. Tanpa banyak lirik aku ambil minyak wangi ayah yang tinggal sedikit lagi habis. Aku melangkahkan kakiku menuju langgar yang tak jauh dari rumah. Sampai langgar paman sedang iqomah, aku langsung berlari ke barisan paling depan tepat disamping paman.
Solat magrib kali ini imamnya ustad Ibrahim, pasti solatnya lebih lama.
Ternyata benar solatnya lama sekali aku sampai mengantuk. Ketika sujud terakhir aku pun tertidur pulas. Dan terbangun kembali esok pagi.
***
Ketika pagi tanggal 25 febuari 2007, si jago tidak berkukuyuk lagi. Malah ada paman disamping ku, paman matanya merah menangis, ternyata dirumah aku banyak orang berkopiah hitam dan berkerudung hitam sedang mengaji di depan emak yang sedang tertidur seperti ayah.
Tidak lama, paman berkata mari kita belajar menulis. Aku pun senang, karena setiap paman mengajak belajar menulis pasti kami membawa kue dan jajanan yang banyak terutama yang aku suka susu bantal. Namun aku bertanya apa kita tidak ijin dahulu kepada emak. Paman pun menangis, emakmu sedang tidur seperti ayahmu juga. Lebih baik kita menulis saja di tempat biasa, di bawah pohon nangka di seberang sungai.
Kami pun berjalan menuju sungai, namun paman tetap menangis. Aku heran kenapa paman menangis, padahal dari pada paman menangis lebih baik paman tertidur seperti ayah dan ibu.
Akhirnya sampai juga di seberang sungai, paman pun langsung membukakan susu bantal untukku. Setelah, selesai minum susu paman menyuruhku menulis surat cerita tentang tertidurnya ayah dan ibu. Sambil di eja aku tulis kata-kata yang ada di mulutku sambil sesekali bertanya pada paman tentang ejaan yang aku tulis. Cukup lama aku menulis tulisan ini, tapi akhirnya selesai juga. Paman pun berkata denga sedih, simpan tulisan ini didalam lemarimu kelak jika kau sebesar paman nanti kau akan bahagia membaca tulisan ini. Tidaklah bersedih seperti paman.
Aku selalu dengarkan semua kata-kata keluarga aku baik paman, ayah ataupun emak. Aku simpan tulisan ini. Sekarang aku mulai sebesar paman, maka aku boleh membacanya. Benar kata paman aku berbahagia sekali membaca ini, hanya kenanganlah yang membuat ayah dan emak terjaga dari tidurnya. Kini tulisan itu tidak hanya diatas kertas tapi di dalam monitor komputerku. Mari teman menulis seperti aku agar teman-teman mempunyai kenangan juga seperti aku!!!
SEBELUM SHUBUH
dingin yang kemarin, terasa hangat
sederet katamulah yang membara di ujung nadi
udara kian melekat
berkas cahaya melesap dinurani
kita kembali di bulan juni
air mata tertetes
haru yang terasa
janganlah menjadi diriku yang dulu
kemarin kita masih terjatuh
shubuh nanti kita mulai terjaga.
siuman dalam empat kecupan bibir kita
kita yang jauh menapaki jalan yang terdekat.
Cobalah basuh hati ini dengan deret kata tadi
jantung mulai berdetak
pikiran menebak
apa yang terjadi nanti
Tuhan jadikan shubuh awal kehidupan kita
jika ada siang, itu adalah tikah ku padanya
12 Maret 2007
KELAK
kita terduduk di atas pasir-pasir akhir perjalanan pelaut
kita menatap buah hati yang memainkan pasir itu
kita tak bicara hanya tersenyum mengikuti gelombang
kau ambil sehelai rambut putih yang terjatuh dari kepalaku
sambil bercerita tentang percintaan kita semalam yang patah karena siang
kita tak usung bosan berdua menatap anak cinta ditepi rumah bertepi laut
tidak ada lagi yang lain hanya kita kelak
12 Maret 2007
BALUTAN KAIN DI KEPALAMU
jika kita berdiri
tepat kepalamu di sisi telinga
tak kulihat matamu
hanya balutan kain di menutupi kepala
garis lekuk kulihat membentuk senyum
keindahan yang tak pernah kuketahui dimana keindahannya
terkadang ingin kutempel bibirku siatas kain yang membalutmu
namun terlintas pemikiran
balutan kain itu lawanku
aku tidak mengetahui apa yang ditutupi dari isi kepalamu
12 Maret 2007
TERCITAKAN
untuk robiatul aolawiyah
tangan mana yang berhenti bergetar jika ingin berkata-kata denganmu?
Jiwa mana yang terdiam jika ingin menjiwaimu
semua bergejolak, berlahar memerah
kaki kaki mulai lemas
pikiran ber argumentasi dengan logika
diskusi kusir berlangsung dalam hati
semua rusuk patah tak terjumlahkan
mega sekali kharisma mu
hingga ku dapat berbohong pada hatiku sendiri
kelak aku akan mendampingimu dalam jiwa yang tenang
21 Maret 2007
Riwayat Penulis:
Mohammad Faris Habib, lahir di Jakarta, 24 Pebuari 1985. Kini sedang kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2003. Aktif di Komunitas Intisari Sastra Sehat. Email: bib_jiun@yahoo.com
http://farishabib.blogspot.com http://farishabib.multiply.com